Elegi 23 Maret

Hari ini aku mendengar kabarmu. Haruskah aku? Tidak. Aku tidak pernah ada di dekatmu. Aku tidak pernah mau mendengar kabarmu. Karena itu menyakiti aku. Padahal baru tadi pagi aku berkata “melihatmu bahagia adalah kebahagiaan terbesarku!”, betapa ironisnya dunia ini. Aku berkata, aku juga yang membantah.

Pagi ini aku terbangun. Tidak, semalam aku tidak memimpikan kamu. Namun aku terbangun dengan firasat buruk tentangmu(lebih tepatnya tentangku). Apakah karena semalam kau bersikap begitu dingin? atau karena aku tahu apa yang akan terjadi? Akhirnya aku melangkahkan kakiku ke kamar mandi. Saat itu pukul 5 pagi. Hari kedelapan semenjak aku patah hati. Hm, salah, sepertinya ke delapan belas, tapi 10 hari itu hilang ditelan senda guraumu. Hari kedelapan semenjak aku mulai memaki. Aku pikir ini hari yang bersih. Tapi nyatanya, aku kembali duduk di lantai kamar mandi, menyumbangkan tetes- tetes air mata pada lantai becek lagi.

 Aku kembali berjalan dinaungi udara pagi yang dingin. Dingin, tapi tak menusuk. Hatiku lebih dingin….dan pilu…. Aku masuk kedalam tempat dimana aku duduk setiap pagi, dan menunggu tiba di tempat penyiksaan terjadi. Aku pejamkan mata. Hembusan nafasku mengantarku ke duniaku yang begitu gelap, tapi indah(setidaknya dibandingkan kenyataan ini). Dengungan musik pianis dan iblis bergantian meredam egoku. Saat kubuka mata, aku belum siap menerimanya.

Malam ini aku menangis (lagi). Meskipun aku menyumpah dan memaki. Aku membayangkan saat siang tadi. Aku mendengar suaramu, dan dia, meskipun aku sangat jauh. Tetapi telingaku menjadi seperti telinga anjing jika mendengar suaramu. Aku menjadi hipersensitif jika aku merasakan kehadiranmu. Aku mendengarmu memanggilku, tapi takdir tidak berjalan seperti itu. hanya 7 detik waktuku, dan semua selesai, menguap bersama atmosfer sekolah yang kian berlalu. Aku teringat saat aku harus mengetahui kabarmu. Saat ia dengan lembut menopangmu dan memegang pinggangmu. Bukan itu yang kumau. Aku ingin ada untukmu. disisimu saat kau membutuhkanku. Namun aku hanya bisa mengirim ucapan dan salam. Serta doa yang kupanjatkan yang tak kutahu didengarNya atau tidak. Inilah hidup, kau tidak membutuhkanku. 

tidak ada yang menginginkan hidup menjabarkan dirinya sebagai elegi ataupun balada sedih. Namun tiap orang tidak hanya mengalami parodi dan kisah heroik. ada kalanya ia menjadi peratap dan pecundang. Itulah esensi. Esensi dari hidup yang tidak kutau dimana ia punya arti. Aku menyayangimu, tapi membenci hadirmu. betapa ironis…

6 Responses to “Elegi 23 Maret”

  1. raraisme Says:

    mche
    huaaaa
    sediihhh
    tentang siapa yaa che???
    hahahahahaa
    si itu yaaa si ituuuu….
    yg dulu ketemu di TA
    hahahaha
    wadduukkzzzz

  2. ampun ce
    mending banget dikaw hahahaha

  3. nyuu
    pilu skali, mii.. haha

  4. ironis….dan mengiris…

  5. whitesilva Says:

    ce..

    gw
    terharu..

    keren..

    hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.