Mari kita tinggalkan postulat relativitas Einstein sejenak. Karena cintaku tidak butuh pemikiran matang dan intelejensi berkepanjangan. Karena mencintaimu adalah mutlak bagiku. Absolut dan tak tergantikan. Rasa kasihku tidak memiliki kerangka acuan. Aku tenggelam di dalam kemutlakan.
Mencintaimu mutlak butuh kesabaran. Sabar terombang- ambing dalam kesia- siaan dan pengharapan, Keputus asaan dan kenekatan. Mencintaimu bagaikan meminum secangkir teh panas. Untuk menikmatinya, dibutuhkan waktu untuk menunggu, sambil menjinakkan panas yang menguap dan mengepul, sebelum ia menjadi hangat dan akhirnya melegakan dinginnya dinding- dinding kerongkonganku. Begitu juga dengan keputusanku menikmati kebersamaan denganmu. Namun kamu berwadah gelas isolator, tertutup rapat. anti radiasi, konveksi, dan konduksi; tidak pernah kehilangan panas. Sehingga menikmati keberadaanmu mesti mengorbankan indera terdalamku.
Mencintaimu mutlak butuh keberanian. Di mataku kamu adalah hutan belantara yang tidak dapat kuukur rimbanya. Aku tak pernah dapat mengkalkulasi peluang ku bertahan dengan keganasannya. Namun aku tetap melangkah masuk, lebih dalam, lebih dalam. Bagiku tidak ada titik balik. Aku akan terus menapak hingga menemui jantungmu. Meskipun hampir pasti aku tersesat, dan tak akan kembali. Aku tidak memiliki kompas penunjuk arah kepada hatimu, ataupun kecakapan dasar pramuka untuk meninggalkan jejak agar dapat keluar dari jeratmu. Aku menerobos masuk kedalam hatimu dengan segenggam tekad. Bagiku itu lebih dari cukup. Karena mencintaimu adalah menghadirkanmu tanpa radius di hatiku. Mencintaimu berarti melangkahkan kakiku pada sebuah penolakan. Mengarahkan kakiku pada kursi pengadilan, menunggu ketukan palu dan putusan- putusan hakim dan jaksa. Sebelum akhirnya dijatuhi vonis 100 tahun penjara. Lengkap dengan belenggu dan dendanya. Mencintaimu berarti kehilanganmu, jika aku tidak pernah beruntung, jika aku mutlak sesial itu.
Mencintaimu mutlak butuh pengorbanan. Setiap hari kusirami lukaku dengan air mata yang tak ada habisnya. Hari- hariku kulepaskan dengan ratapan dan kesesakan. Entah butuh berapa lama mengembalikan hari- hari yang terbuang. Tapi aku tak perduli. Karena esensi cintaku adalah pengorbanan untukmu. Aku tidak peduli bahwa bara api adalah tempat aku harus berdiri, jika dengan kehadiranku disana kamu dapat tertawa. Aku tidak keberatan jika harus berpegangan pada kawat berduri, jika dengan itu aku dapat menopangmu disaat- saat kamu terjatuh. Aku pun rela jika harus menghirup gas beracun, jika dengan begitu, kamu dapat menghirup udara kebahagiaan. Dan jika aku hanya dapat bersamamu dalam rupa arwah, biarkan aku mati, dan menjadi malaikat pelindungmu, setiap malam dan pagi hari.
100 tahun penjara akan kulewati. Jika saat aku terbebas kamu sudah kembali. Hutan akan aku jadikan domisili, jika disana hadirmu kurasakan kembali. Rupa arwah akan kujadikan wujud selamanya, jika dengan begitu, aku dapat menikmatimu dari dekat. dekat, sangat dekat.
…..
akan kuhapuskan diriku dari sistem tata surya, jika cintamu dapat kutemukan di galaksi lainnya.